Tentang Saya
Nama
saya Najuari Syawalia. Teman-teman saya biasa memanggil Najwa, Jwa, atau Wawa. Saya
lahir di Tangerang, 8 Januari 2002. Saya anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakak
saya bernama Septiani Vidia, berusia 32 tahun dan adik saya bernama Afif Fadhillah
berusia 15 tahun. Saya lahir dari keluarga yang sederhana, kehidupan kami
terbilang cukup walaupun rumah yang ditempati keluarga masih milik kakek saya.
Pendidikan
saya dimulai dari TK Al Ikhlas yang
lokasi nya tidak jauh dari rumah saya, dulu ketika saya berangkat sekolah saya
tidak pernah diantar oleh mama atau ayah saya. Mama hanya menitipkan saya
kepada tetangga saya yang juga anaknya satu kelas dengan saya. Kemudian menginjak
ke jenjang berikutnya, saya bersekolah di SDN Cilenggang 3. Saya masih ingat,
ketika hari pertama ke sekolah diantar oleh mama tapi ketika hari pertama
sekolah telah usai, mama saya sudah terlebih dulu pulang karena ada sesuatu. Akhirnya,
saya pulang bersama tetangga saya lagi. Lucu sekali.
6
tahun saya bersekolah di SD tersebut,
saya sama sekali tidak tertarik untuk masuk ke SMP Negeri seperti teman-teman
saya yang lainnya. Entah kenapa, saya lebih memilih mengikuti sepupu saya yang
lebih dulu masuk ke pondok pesantren. Teman-teman saya yang lain merasa saya
tidak cocok untuk masuk ke pesantren. Kata mereka, saya itu cengeng, manja,
makannya pilih-pilih dan lain-lain. Tapi saya tetap masuk ke pesantren.
Keinginan
saya untuk tinggal di pesantren bukan paksaan dari orang tua atau keluarga
lainnya. Ini murni dari keinginan diri saya sendiri. Dengan senang hati, orang
tua saya mendaftarkan diri saya ke pesantren Asshiddiqiyah Serpong. Masih ingat
sekali saya, saya tes di hari Sabtu ketika pulang sekolah. Lalu dipertengahan
jalan, saya dan ayah saya kehujanan dan elipir terlebih dahulu di dekat bengkel
motor. Setelah hujannya reda, saya melanjutkan ke pesantren untuk mencoba tes.
2 hari kemudian, saya mendapat pengumuman kalau saya lolos masuk ke pesantren
tersebut.
4
Juli 2013. Keluarga saya mengantar saya ke pesantren, saat itu hujan
rintik-rintik menemani perjalanan saya menuju pesantren. Baju, perlatan mandi,
peralatan shalat dan lain-lain mulai dibawa dari mobil ke kamar saya. Karena waktu
untuk mengantar santri baru tidak lama, akhirnya keluarga saya pulang ke rumah.
Dan disitu saya langsung merasa sepi padahal banyak teman-teman kamar saya yang
lainnya. Saya tidak bisa diam saja, akhirnya saya memberanikan diri saya
berkenalan dengan teman-teman kamar saya. Ternyata mereka baik semua, mereka
yang akan menjadi keluarga saya beberapa tahun kedepan.
Ketika
saya sudah selesai ujian nasional. Saat itu memang banyak teman-teman saya yang
melanjutkan pendidikan SMA di SMA Negeri favorit dan juga ada yang melanjutkan
pendidikannya di pesantren tersebut . Tetapi
saya memilih untuk keluar dan mencari sekolah diluar. Saya tetap tidak tertarik
untuk masuk ke SMA Negeri, karena saya yakin nilai ujian nasional saya tidak
sebesar teman-teman saya yang lain. Mana ada SMA Negeri yang mau menerima saya
di sekolahnya? Sedangkan nilai ujian nasional saya saja dibawah 30. Akhirnya ayah
saya mendaftarkan saya di SMA swasta yang berlokasi di BSD. Kabar tersebut
ternyata terdengar oleh guru saya. Saya masih ingat perkataan guru saya, yang
intinya dia tidak suka kalau saya melanjutkan sekolah di SMA luar.
Ada
satu perkataan guru saya yang membuat saya dan teman-teman angkatan saya
merasakan sakit hati yang teramat sangat. Memang sih itu salah saya dan
teman-teman saya yang lainnya. Karena merasa sudah lama di pesantren jadi
merasa semena-mena. Jarang ikut solat berjamaah dan juga istighosah. Beliau mengatakan
seperti ini “Kalian keluar dari sini (pesantren) juga tidak akan ada yang
sukses”. Siapa yang tidak sakit hati ketika guru kalian sendiri yang mendoakan
muridnya tidak sukses? Disitu saya sangat kecewa dengan guru saya, kenapa bisa
mengatakan hal seperti itu di masjid pesantren dan di dengar oleh santri lain. Oh
ya, ada juga teman saya yang bilang seperti ini “Lo masuk ke sekolah swasta? Yakin?
Kan susah loh kalo SMA swasta buat masuk ke PTN”. Yasudahlah terserah dia aja. Harus
saya buktikan kalo sekolah swasta juga bisa tembut PTN.
Hari
pertama saya masuk ke SMA saya merasa asing. Tidak kenal dengan siapa-siapa
selain teman SMP saya yang juga satu SMA dengan saya. Kemudian tahun 2016 saya
ikut OSIS dan dari situ saya mempunyai banyak teman. Tahun 2017 saya sudah
tidak mau ikut OSIS lagi karena saya sudah tau pahit dan manisnya OSIS. Tetapi,
saya kembali bergabung dengan OSIS yang awalnya saya kira akan pahit seperti
sebelumnya ternyata OSIS tahun 2017 ini lebih baik dari OSIS sebelumnya. Selama
saya di SMA saya tidak pernah les seperti teman-teman saya lainnya. Karena menurut
saya, les cukup menyita waktu saya untuk istirahat. Lagi pula, belajar 8 jam di
sekolah sudah cukup untuk saya.
Oh
ya, saya adalah salahsatu anak yang tidak lolos SNMPTN. Sedih? Memang sedih,
tapi tidak berkepanjangan. Akhirnya saya pergi ke ruang bimbingan konseling dan
mencari tahu jalur untuk masuk kuliah lainnya. Saya mendapat 2 jalur. Yaitu SPANPTKIN,
dan PMDK. Menjelang UN, saya tidak panik. Saya hanya belajar dari soal-soal
yang biasa guru saya berikan. Dan disela UN, malamnya saya masih sempat
nongkrong bersama teman-teman saya yang laki-laki. Tapi disela nongkrong, saya
masih membawa buku untuk belajar. Pengumuman SPANPTKIN jatuh di hari pertama
UN. Pulangnya, saya langsung membuka link dan ternyata saya tidak lolos. Mungkin
itu memang bukan rezeki untuk saya.
Saya
kembali ke ruangan bimbingan konseling dan saya memutuskan untuk melanjutkan pendaftaran
PMDK yang belum saya selesaikan. Saya meng scan
rapot saya dari semester 1 sampai
semester 5 dan menyelesaikan syarat-syarat lainnya. Saya saja asal-asalan
memilih jurusan di kampus yang saya masukkan. Disitu saya sudah pasrah,
keterima atau tidak keterima urusan belakangan. Saya tidak merasa sedih, karena
saya selalu diberi support oleh
keluarga, terutama sepupu saya yang selalu mengontrol perkembangan pendidikan
saya. Pengumuman PMDK yaitu satu hari
sebelum pemilu presiden. Teman saya mendaftarkan saya untuk mengikuti SBMPTN. Awalnya
saya tidak mau ikut SBMPTN karena saat itu pengeluaran keluarga saya sedang
banyak-banyaknya. Terutama adik saya yang mau masuk SMA. Akhirnya saya ikut
mendaftar SBMPTN. Saya akan ujian SBMPTN tanggal 4 Mei 2019.
Detik-detik
pengumuman PMDK. Web nya tidak bisa diakses oleh saya pada saat itu. Akhirnya belum
saya buka sampai tanggal 17 April 2019 saya buka. Awalnya saya bertanya kepada
teman-teman saya yang jauh lebih cerdas
dari saya. Ternyata dia tidak lolos. Saya sangat sedih saat itu. Saya berfikir
seperti ini, “Ah, dia aja yang pinter gak lolos. Gue juga pasti gak lolos”. Entah
keberanian dari mana, saya membuka web tersebut memasukkan nomor pendaftaran
dan password. Betapa terkejutnya saya, saya dinyatakan lolos PMDK 2019 dengan
program studi D4-Teknologi Industri Cetak dan Kemasan di Politeknik Negeri
Jakarta. Pada tahun 1982 nama kampus ini bernama Politeknik Universitas Indonesia, dan kemudian berubah menjadi Politeknik Negeri Jakarta pada tahun 1998. Lokasinya berada di dalam kampus Universitas Indonesia. Bicara Universitas Indonesia, dulu saya pas masih SMP kalau ditanya nanti mau kuliah dimana, saya selalu jawab "Mau di UI, Arsitektur" saya jawab kaya begitu karena ayah saya dulunya kuliah di UI mengambil Arsitektur. Terus, pas pertengahan SMA saya merasa kalau saya tidak cocok rasanya masuk ke arsitektur UI. UI memang bukan rezeki saya, tapi saya kuliah di dalam kampus UI.
Dan
disinilah saya sekarang. Di Politeknik Negeri Jakarta. Hidup bersama
teman-teman saya yang baru, yang sama-sama berjuang 4 tahun kedepan. Walaupun jurusan yang saya ambil
bukan passion saya, tapi saya berusaha mencintai jurusan saya dengan semangat
mengikuti mata kuliah yang bersangkutan.
Banyak
pelajaran yang saya ambil ketika saya berusaha mencari kampus. Terutama
kesabaran. Kesabaran saya di uji ketika saya tidak lolos di beberapa jalur
masuk kampus negeri. Dan itu tentu membuat sedih. Tapi saya menutupi kesedihan
saya supaya orangtua saya juga tidak merasakan kesedihan saya. Mencoba itu
harus, keterima atau tidak keterima itu urusan belakangan. Setidaknya kamu sudah
berusaha mencari jalan yang terbaik. Saya sudah membuktikan ke teman saya bahwa
sekolah swasta juga bisa tembus PTN.
Ucapan
terima kasih dari saya untuk: mama,
ayah, teh Asty, keluarga saya yang sudah menyemangati saya apapun yang terjadi
dan juga teman-teman seperjuangan saya yang tidak bisa saya sebutkan satu
persatu tapi tidak mengurangi rasa sayang saya terhadap kalian semua. Tanpa kalian,
saya tidak menjadi saya yang sekarang.
Komentar
Posting Komentar