Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Belajar Ikhlas

  Kita memang gak pernah diajarkan untuk melupakan. Dari kecil, sampai sekarang. Gak ada yang pernah ngajarin itu. Tapi, kita selalu diajarkan bagaimana kita mengikhlaskan sesuatu. Emang, gak mudah rasanya mengikhlaskan sesuatu itu. Apalagi lisan dan hati itu sering kali gak kompak. Lisan bilang ikhlas, tapi hati mengatakan sebaliknya. Guru saya, KH Noer Muhammad Iskandar SQ   pernah mengatakan seperti ini, Ikhlas itu seperti surat Al Ikhlas, Tidak tertulis satu katapun kata-kata Ikhlas disitu. Karena hanya mereka yang ikhlas, senantiasa berbuat tanpa menyebut keikhlasannya.    

Bergelut di Penghujung Tahun

Hai, bagaimana keadaanmu sekarang? Pasti tidak baik-baik saja kan? Coba, renungi sedikit.. Apa yang sudah kamu korbankan sejauh ini? Hati dan perasaan? Mental dan fisik? Atau bahkan materi? Memang tahun ini terasa berat sekali, Diawali dengan derasnya air, virus jahat yang tak pernah usai, Dan di penghujung tahun yang masih bergelut dengan perasaan. Memang jahat, tapi kamu hebat. Kamu bisa bertahan sejauh ini, melawan semua ketakutan dihidupmu. Ditahun ini hati dan perasaan memang lagi banyak rintangannya ya.. Rasa takut kehilangan, rindu yang mendalam, dan sakit hati yang tak pernah usai. Bimbang kan? Kamu mau bertahan, tapi kapan sembuhnya kalau hati kamu selalu disakitin? Mau berpisah? Tapi kamu gak siap buat kehilangan dan menahan rindu sendiri. Berat ya.. memang berat rasanya.. Memikirkan antara bertahan atau harus berpisah. Tapi pilihan itu di tangan kamu. Tanya hati kamu baik-baik, apakah sudah siap? Karena separuh dari mencintai itu, harus ...

Nyesel, kenapa saya kepo?

Saya masih menyesal, kenapa saya kepo..  Kalau saya gak kepo, gak bakalan jadi kaya gini.. perasaan sayanya.. Coba kamu bayangin, lagi kuliah capek terus ketiduran.. bangun dari tidur, saya ngeliat postingan kaya gitu..  Saya seketika ngerasa satu tahun ini benar-benar gak ada artinya.  Iya saya tau, saya bukan orang yang kamu maksud di postingan itu. Kenapa saya tau? Toh foto yang kamu gelapkan itu memang bukan foto saya.. Tapi foto orang lain.. Maaf, maksud saya ya orang di masa lalu kamu..  Jadi saya ini siapa? Lupa sama saya?  Kamu selalu bilang saya yang udah temenin kamu disaat kamu down, saya yang selalu support apa yang kamu lakukan, dan saya yang selalu baik mau bantu kamu apapun itu.  Itu semua palsu ya? Gapapa, jujur aja.. Rasanya menyakitkan ya jadi terlanjur asing.. Kalau kaya gini, saya kembali berpikir sih.. Kenapa kamu memulai, untuk mengakhiri seperti ini?

Gimana Kabarmu?

Hai,  Bagaimana kabarmu selama ini? Udah 2 bulan, gak tau gimana kabar kamu.  Semoga kamu sehat, dan baik-baik saja.  Kalau kamu tau, saya selalu kepikiran kamu. Kapanpun dan di manapun.  Kenapa sih, kita gak ada yang bertukar kabar? Saya rindu sama kamu. Pecayalah.. ini benar-benar rindu.  Saya mimpiin kamu, kita bertemu. Dalam mimpi itu saya nangis, kenapa kamu gak pernah nanyain gimana kabar saya, kenapa kamu gak nanyain saya..  Kamu pernah bilang ke saya, kalau kamu hilang saya yang harus cari kamu.. tapi kamu pernah berpikir gak sih, untuk nyariin saya?  Kamu bilang kamu takut ditinggalin, terus kenapa kamu ninggalin saya gitu aja? Kamu pikir saya gak punya perasaan? Sedih banget rasanya..  Tapi kayaknya memang sayanya yang bodoh, berharap sama insan seperti kamu.  Dan kamu harus tau,  Saya gak bisa marah sama kamu.. Saya gak tau lagi, gimana menyampaikan perasaan saya ke kamu.  Saya berharap kamu lihat tulisan ini, walaupun ka...

Hujan

Tak berkabar tak berjumpa. Sekalipun    berjumpa, tak bersua. Biarlah, kupikir ia memang enggan menyapaku. Saat kami berjumpa.  Seketika merasa janggal. Tidak ada dari kami yang bertukar kabar.  Bahkan di hari besar sekalipun. Tak ada sama sekali, “Bagaimana kabarmu?” Tak di pungkiri, ada sedikit rasa kehilangan. Kehilangan arah, sedih berlebihan, bahkan tidak ada semangat untuk hidup.  Memang terlalu berlebihan, Padahal belum menjadi separuh hidupku. Semesta ikut mengerti apa yang kurasakan. Ketika aku sedih, langitpun menjadi gelap. Ketika aku menangis, langit pun ikut menangis. Seolah sangat mengerti perasaan si makhluk kecil ini.  Jika aku diizinkan bicara pada hujan. Izinkan aku untuk mengatakan sesuatu. Untuk disampaikan pada dirinya. Hujan, tolong sampaikan rinduku padanya. 

Update

Sudah lama rasanya tidak berbagi cerita disini. Semenjak si pria gemini hadir, saya sering kali lupa kegiatan menulis saya yang sudah ada sejak duduk di bangku SMA. Bagaimana kabar kalian? Semoga kalian selalu bahagia, sehat selalu dan tidak panik di tengah pandemi seperti ini. Besok, 24 April adalah hari pertama bagi umat muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Tahun yang cukup berat menurut saya, kita puasa ditengah pandemi virus yang sangat serius.  Bicara tentang kehidupan Sudah mau dua semester saya kuliah. Sudah banyak suka dan duka yang saya alami. Ah, sebenarnya sayabingung ingin memulainya dari mana. Begini deh, Kita kilas balik dari jenjang pendidikan. Dulu, pas waktu saya masuk SMP saya punya temen yang emang sudah sedari SD kami berteman. Lulus SMP, saya melanjutkan ke SMA. Di SMA, ada juga satu teman saya yang sudah berteman dari SMP. Dan, setelah lulus SMA saya kuliah dan benar-benar sendiri. Tidak ada teman yang ikut dengan saya, atau saya...

Si Pria

Hai.. Teruntuk kamu, yang membuatku menjadi seperti ini. Tiada hari tanpa memikirkanmu sepanjang waktu. Yang belum tentu juga memikirkanku. Sungguh, terasa sia-sia. Kamu tau, Aku sangat takut. Aku takut meninggalkan mu. Walau kenyataannya, kamu lah yang meninggalkan ku. Tanpa kata, tanpa jejak. Kemudian kembali datang, Seolah tidak terjadi apa-apa. Bodohnya, aku hanya diam tak berucap. Sungguh aneh, Kenapa aku tak bisa marah kepada kamu?