Kisah Bahram Al-Majusi Yang Mendapat Ridho Allah Karena Shodaqoh


Dermawan adalah salahsatu sifat yang sangat terpuji. Tapi tidak semua orang bisa memiliki sifat ini.

Untuk menjelaskan betapa pentingnya sifat ini di kehidupan kita. Simak kisah Syekh Abdullah bin Mubarrak dan Bahram Al Majusi berikut ini.

Pada suatu tahun dari beberapa tahun, Syekh Abdullah bin Mubarrak melaksanakan ibadah haji. Saat beliau berada di Hijr Ismail dan melakukan ibadah lainnya beliay bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memberi pesan kepada beliau.

"Wahai Abdullah bin Mubarrak. Ketika kamu kembali dari ibadah hajimu pergilah ke kota Baghdad kemudian temui Bahram Al Majusi (sebutan bagi penyembah Api). Sampaikan salamku padanya dan katakan Allah ridho padamu"

Tak lama kemudian Syekh Abdullah bin Mubarok terbangun dan berdoa "La hawla wa laa kuwwata illa billa hil 'aliyyil 'azhim. Mungkin mimpi ini datang dari setan" 

Syekh Abdullah bin Mubarrak kemudian mengambil air wudlu dan kembali melakukan thowaf di ka’bah. Tetapi atas kehendak Allah, Beliau tertidur dan bermimpi seperti mimpi sebelumnya. Dan kejadian itu berlangsung sampai tiga kali berturut-turut.

Setelah melaksanakan ibadah haji Syekh Abdullah bin Mubarrak pergi ke Baghdad untuk menemui Bahram Al Majusi. Sesampainya di Baghdad Beliau bertanya-tanya kepada orang-orang dan ditunjukkanlah tempat tinggal Bahram Al-Majusi kepada Beliau. Bahram Al Majusi ternyata adalah seorang kakek tua penyembah api yang cukup terkenal di sana. 

Setelah bertemu Bahram Al Majusi beliau bertanya. "Apakah benar kau yang bernama Bahram Al Majusi?" lalu kakek tua tersebut menjawab "Benar" 

Syekh Abdullah bin Mubarrak pun mencoba untuk mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Tak lama, Beliau pun menanyakan maksud kedatangan Beliau menemuinya “Kebaikan apa yang sudah kamu kerjakan selama ini ?” lalu Bahram menjawab “Aku meminjamkan uang kepada orang-orang dengan bunga pembayaran (rentenir) dan bagiku ini adalah suatu kebaikan”.

Syekh Abdullah bin Mubarrak pun membalas dan bertanya lagi “Ini adalah suatu pekerjaan haram bagi ajaran Rosulullah SAW. Apakah ada kebaikan lain selain ini ?”.

Bahram Al-Majusi menjawab “Tentu, aku memiliki empat anak perempuan dan empat anak laki-laki kemudian aku menikahkan mereka (pernikahan sesama saudara)”

Syekh Abdullah bin Mubarrak pun membalas dan bertanya lagi “Ini juga haram. Apakah ada kebaikan selain ini ?”
Bahram Al-Majusi menjawab lagi “Tentu, aku menjadikan pesta yang besar pada pernikahan anak-anakku”.

Syekh Abdullah bin Mubarrak pun membalas dan bertanya lagi “Ini juga haram. Apakah ada kebaikan lain selain ini ?”.

BahramAl-Majusi menjawab “Tentu, aku memiliki seorang anak perempuan yang cantik kemudian aku menikahinya dan menjadikan pesta meriah pada pernikahanku, yang dihadiri lebih dari seribu orang majusi”. 

Syekh Abdullah bin Mubarrak pun membalas dan bertanya lagi “Tidak, ini adalah suatu perbuatan haram. Apakah ada kebaikan lain selain ini ?”.

Lalu Bahram Al Majusi menjawab 

“Pada malam pertama aku dengan anakku diatas ranjang, datang seorang perempuan muslim dari agamamu. Ia menyalakan lampu dirumahku, lalu aku keluar dan mematikan lampu itu lalu masuk ke kamarku lagi. Tak lama kemudian ia datang lagi dan menyalakan lampu, lalu aku keluar dan mematikan lampu lalu masuk ke kamarku untuk kedua kalinya. Tak lama kemudian ia pun datang lagi dan menyalakan lampu, lalu aku keluar dan mematikannya, aku berkata pada diriku “Mungkin orang ini adalah seorang pencuri”. Aku mencarinya dan mengikutinya dari belakang sampai ia kembali kerumahnya. Aku mengintip dari celah-celah rumahnya, disana aku melihat empat anak, mereka berkata “Ibu, apakah engkau pulang dengan sesuatu untuk dimakan, kami sudah tidak kuat menahan lapar”. Perempuan itu meneteskan air mata dan berkata kepada anak-anaknya “Wahai anak-anakku, aku malu pada tuhanku untuk meminta sesuatu kepada selain Dia, apalagi meminta sesuatu kepada musuh-Nya, (orang majusi)”. Ketika mendengarnya, aku segera pulang ke rumah. Aku mengambil wadah makanan dan memenuhinya dengan berbagai makanan. Kemudian aku pergi menuju rumah perempuan itu seorang diri dan memberikan makanan-makanan itu pada mereka. Mereka sangat senang karena itu”.

Syekh Abdullah bin Mubarrak pun berkata 

“Ini adalah suatu kebaikan yang amat mulia. Aku akan memberi berita baik kepadamu. Ketika melaksanakan ibadah haji, aku bermimpi bertemu Rosulullah SAW. Beliau menitipkan salam dan berkata bahwa Allah sangat ridlo kepadamu”.

Setelah mendengar kabar dari Abdullah bin Mubarrak, Bahram Al Majusi langsung mengikrarkan syahadat di tempat itu juga   “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammdan rasuulullah"

Setelah membaca kalimat syahadat tersebut, Bahram Al Majusi terjatuh dan meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah. Syekh Abdullah bin Mubarrak pun tidak meninggalkannya sampai Beliau memandikan, mengkafani dan mensholatinya.

Setelah menceritakan kisah ini, Syekh Abdullah bin Mubarok berpesan “Wahai hamba-hamba Allah, berbuat dermawanlah kepada makhluk Allah Ta’ala, karena sesungguhnya perbuatan itu bisa mengubah musuh pada derajat kekasih. Bagi Allah kerajaan bumi dan langit, semoga Allah mengampuni kita atas hak nama-nama-Nya yang agung dan atas menghormati para nabi”



Sumber kisah : Kitab Durrotun Nashihin
Penulis : Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khoubawi.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelukur

Berbeda