CHANNEL: Pendakian Gunung Latimojong 3.478 mdpl
Kamis,
19 April 2018
Pukul
setengah lima sore kami pergi menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kami
naik mobil elf sekolah diantar oleh Pak Bakri, supir elf. Perjalanan dari
sekolah menuju bandara kurang lebih memakan waktu satu jam bila tidak macet.
Akhirnya, setelah 1 jam lamanya kami di mobil kami tiba di bandara. Kami duduk
istirahat sejenak dan masuk untuk melakukan pengecekkan.
Setelah
mengambil tiket pesawat, aku menunggu pesawat di gate yang telah ditentukan.
Karena waktu sholat isya telah masuk, aku dan teman-teman bergegas ke mushola
untuk sholat bergantian. Waktu boarding pesawat kami pukul 21.10 WIB. Kami
menunggu pesawat dengan tenang sampai tiba waktunya pesawat kami boarding.
Jumat,
20 April 01.00 WITA.
Kami
sudah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanudin. Perjalanan kami dimulai
disini. Kami naik mobil avanza selama 6 jam untuk sampai di Baraka, Basecamp
Lembayung. Karena perjalanan yang memakan waktu sangat lama itu, kami
memutuskan untuk tidur dan istirahat dimobil.
Setibanya
di Basecamp Lembayung, kami disambut oleh Pak Dadang. Pak Dadang ini menjadikan
rumahnya sebagai basecamp sekretariat bagi Kelompok Pecinta Alam (KPA)
Lembayung. Dari Pak Dadang inilah kami mendapatkan kontak dari jeep yang akan
membawa kita ke dusun Karangan, dusun terakhir sebelum melakukan pendakian.
Setelah
sarapan, kami naik jeep untuk menuju dusun Karangan. Waktu yang ditempuh untuk
sampai di dusun Karangan ini kurang lebih memakan waktu sampai 3 jam. Di jeep
kami disuguhi pemandangan yang begitu indah yang tak pernah kami lihat di BSD.
Jalanan yang menanjak sangat ekstrem membuat nyali kami seperti diuji. Banyak
para siswa SD yang lewat berlalu lalang untuk pergi menuntut ilmu disekolah.
Jarak dari rumah ke sekolahnya pun tergolong cukup jauh, tapi mereka tak kenal
lelah untuk tiba di sekolah.
Baru
1 jam perjalanan menuju dusun Karangan, jeep yang kami tumpangi tidak bisa
melanjutkan perjalanan karena mogok. Akhirnya kami menunggu jeep pengganti
sambil beristirahat di rumah warga yang memiliki warung. Kami memanfaatkan
waktu tersebut untuk beristirahat.
Pukul
delapan malam kami baru mendapatkan jeep pengganti yang akan mengantarkan kami
menuju dusun Karangan. Suasananya sangat gelap, dan lebih ekstrem dibandingkan
siang tadi. Tanjakan demi tanjakan sudah kami lalui begitu saja, yaa walaupun
teman-teman kami ada yang turun dari mobil untuk mendorong mobil ini
menyebrangi sebuah sungai kecil. Kami tiba di dusun Karanagn pukul sebelas malam
dan langsung istirahat di rumah Ambe Simen. Rumah panggung yang sangat khas dan
disertai angin membuat badan kami kedinginan meggigil.
Sabtu,
21 April 2018
Hari
ini, bertepatan di hari Kartini kami memulai perjalanan kami menuju Latimojong
dan sampai di Puncak Rante Mario. Kami bersebelas berdoa terlebih dahulu semoga
saja perjalanan kami selalu dilindungi oleh yang maha kuasa. Selepas berdoa,
kami berjalan dari rumah Ambe Simen menuju pos 1. Jalanan yang dilewati masih
cukup landai dan bagus karena disekeliling jalan banyak pohon kopi milik para
petani. Perjalanan menuju pos 1 memakan waktu 1 jam, apabila sudah tiba di pos
1 akan ada tanda sebuah piring berawarna putih yang dipaku pada pohon. (Pos 1:
Buntu Kaciling)
Dari
pos 1 ke pos 2 menurutku ini lumayan panjang, karena kita harus masuk kedalam
hutan dan banyak pohon besar yang tumbang disana. Akar-akar yang menyembul
membantu kami untuk berpegangan dari satu pohon ke pohon lain. Hati-hati,
karena jurang berada disebelah kiri kita. Waktu yang ditempuh kira-kira 2 jam.
Apabila sudah terdengar suara air yang begitu deras, maka sebentar lagi kita
akan tiba di pos 2. Goa Sarung Pak-pak namanya. Pos 2 berupa goa yang dapat
digunakan untuk nge camp sekitar 2 atau 3 tenda mata airpun berada tepat didepan
goa. (Pos 2: Goa Sarung pak-pak)
Perjalanan
selanjutnya sebenarnya perjalanan yang paling pendek. Hanya saja medan yang
disajikan begitu menantang dengan tingkat kemiringan sekitar 80 derajat.
Kebayang bukan bagaimana miringnya? Waktunya hanya ditempuh sekitar 1 jam.
Dijalur ini dibutuhkan kekuatan tangan dan kaki untuk berpegangan ke akar-akar
pohon yang menyembul keluar dari tanah. Hati-hati jika melewati jalur ini
diwaktu hujan turun. (Pos 3: Lanteng Nase)
Dari
pos 3 ke pos 4 jalanan sudah makin mereda dibandingkan sebelumnya. Kalian akan
mendapat bonus yaitu jalanan yang lumayan landai walau hanya sebentar. Kalian
juga akan melihat sebagian pohon sudah di tutupi dengan lumut. Waktu yang
dibutuhkan untuk sampai di pos ini kurang lebih 1 jam. (Pos 4: Buntu Lebu)
Perjalanan
dari Pos 4 ke Pos 5 memakan waktu kurang lebih 2 jam. Rute ini tidak beda
jauh dengan rute dari Pos 3 ke Pos 4. Yang cukup mistis di sini adalah kalian
akan melewati sebuah pohon yang berbentuk seperti huruf “A”. Lubang antara
kaki-kaki pohon yang menyerupai huruf “A” tersebut dipercaya sebagai gerbang
dunia lain. Mitosnya, melalui lubang tersebutlah mahluk-mahluk halus datang ke
dunia manusia ini. Di pos 5 ini terdapat mata air, Rute pengambilan airnya
sendiri tidak bisa dikatakan mudah, banyak pohon tumbang yang menutupi jalur
tersebut. Kita harus sangat berhati-hati untuk melewati jalur tersebut karena
kalau sampai terpeleset sedikit maka resikonya jatuh ke jurang yang ada di sisi
kiri jalan menuju sumber air tersebut. (Pos
5: Soloh Tamah)
Minggu,
22 April 2018
Kami
mulai summit pada pukul 6 pagi. Niatnya, kami akan summit pada pukul 12 malam
tadi. Tapi, karena hujan akhirnya kami mulai summit pada pukul 6 pagi.
Pendakian
Pos 5 menuju Pos 6 Hampir mirip dengan Pos 2 menuju Pos 3, jalurnya cukup
menanjak. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Di pos 6
ini, kita sudah bisa melihat langit dengan bebasnya, tidak ada pepohonan yang
menutupi atapnya, langit terlihat jelas dari sini. Semakin banyak pohon atau
tanaman yang dihinggapi oleh lumut di pos 6,kita memang sudah akan memasuki
kawasan hutan lumut. (Pos 6: Buntu Latimojong)
Dari
pos 6 ke pos 7 kita akan melewati yang namanya Hutan Lumut. Mengapa dinamakan
hutan kumut? Karena hampir semua tumbuhan yang hidup disini ditutupi oleh lumut
semua. Waktu yang ditempuh kurang lebih 2 jam. Disini kita dapat mendirikan
tenda seperti di pos 5 mata airnyapun tidak sesulit yang di pos 5. (Pos 7:
Kolong Buntu)
Dari
pos 7 menuju puncak Rante Mario, kita akan melihat sebuah pohon besar yang
ditutupi oleh lumut. Disana gravitasinya juga berbeda dengan pos-pos
sebelumnya. Bisa dibuktikan dengan kalian melihat susunan batu yang disusun
tinggi oleh para pendaki lain yang istirahat. Kalian dapat melakukannya dengan
sangat mudah. Cukup letakan batu yang kalian ambil dan taruh diatas batu yang
sudah tersusun tinggi. Maka batu kalian akan ikut tersusun pula disana.
Perjalanan
menuju puncak dihadiahi dengan jalur yang landai nan panjang. Sejauh mata
memandang kalian akan disuguhi pemandangan puncak dibalik puncak. Kalian merasa
kalau kalian sudah melihat puncak, namun ternyata bukan. Itu bukan puncak Rante
Mario.
Pukul
10.OO WITA kami tiba di atap Sulawesi dengan ketinggian 3.478 meter diatas
permukaan laut. Kami melihat dengan jelas sebuah batu balok menjulang yang
disebut Puncak Rante Mario.
*
Itu
ceritaku beberapa pekan lalu. Puncak yang selama ini aku lihat di internet,
kini aku dapat melihat langsung dengan mata telanjang. Aku bersyukur bisa
sampai di tanah tertinggi Sulawesi.
Jadi,
kapan kalian mencoba?
Mauuu secepatnya
BalasHapus