CHANNEL: Pendakian Gunung Semeru 3.676 mdpl
Gunung Semeru adalah salahsatu gunung tertinggi ketiga yang ada di Pulau Jawa setelah Gunung Kerinci di Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Gunung ini berada pada ketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut.
Selanjutnya, saya akan menceritakan pengalaman saya mendaki gunung berapi tertinggi dipulau Jawa ini. Berawal saya mengikuti sebuah organisasi pecinta alam disekolah saya, yang bernama CHANNEL. Apa itu CHANNEL? CHANNEL adalah singkatan dari Cikal Harapan Nature Lover. Yang pembinanya benama Johan Tri Efendi, kami menyebutnya Pak Jo.
Awalnya saya berfikir kalau saya tidak diizinkan oleh kedua orangtua saya, pada saat itu saya masih duduk dibangku kelas 10 juga sebelum berangkat kesana, sekolah saya mengadakan kemping selama 3 hari dua malam di daerah Gunung Bunder, Bogor. Jadi saya berfikir kalau saya tidak diberi izin oleh kedua orangtua saya. Tapi, takdir berkata lain. Saya diizinkan oleh kedua orang tua saya tanpa ada perdebatan. Ceileh.
Next. Sepulang dari Gunung Bunder, saya langsung pulang kerumah untuk membersihkan badan dan bersiap-siap menuju sekolah untuk briefing sebentar setelah dirasa semua sudah siap dan lengkap, kami semua pergi ke Stasiun Rawa Buntu untuk melanjutkan perjalanan.
Ah iya, kami satu rombongan terdiri dari 13 orang. Ada saya, Ka Indi, Ka Husein, Ka Rivo, Attilah, Adhit, Adri, Kunto, Galuh, Pak Johan, Pak Miftah, Bang Rizal dan Siara. Ditambah 2 orang lagi yaitu bapak dan om nya ka Indi. Setelah 30 menit transit dari stasiun Tanah Abang - Stasiun Senen, kami langsung masuk kedalam kereta tujuan Malang. Perjalanan akan ditempuh kurang lebih selama 12 jam.
Kami sudah sampai di Malang, setelah shalat Subuh di mushola setempat kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos pertama yaitu Ranu Pane. Perjalanan menuju Ranu Pane sangat sayang untuk dilewatkan, kami melewati Taman Nasional Gunung Bromo, Bukit telletubbies, dan kami dapat melihat Puncak Gunung Semeru dari kejauhan. Sungguh indah sekali.
(Ketika kami hendak siap-siap)
Setibanya di desa Ranu Pane, kami melakukan packing ulang dan berganti pakaian (jika yang mau). Setelah packing selesai, kami sarapan diwarung yang dekat dengan Pos Ranu Pane lalu memulai perjalanan.
Perjalanan pertama kami melewati perkebunan milik warga setempat, jalananpun yang awalnya landai kini mulai menanjak. Karena ini pendakian pertama saya, baru melewati tanjakan yang tidak terlalu tajam saja sudah membuat napas ngos-ngosan. Tapi, karena mempunyai semangat yang besar saya tidak mengikuti kata hati saya yang selalu berkata 'istirahat, duduk, minum'. Hal tersebut jika dilakukan terus-terusan, justru malah membuat kita cepat lelah.
Kami tiba di Lendengan Dowo untuk beristirahat sejenak, dan untuk menetralkan deru napas kami. Disana, ada warung yang menyediakan air minum, buah semangka dan makanan ringan.
Setelah itu kami melihat batu terjal yang indah dan melihat pemandangan yang sangat indah ke arah lembahh dan bukit-bukit yang ditumbuhi pohon cemara dan pinus. Kami tiba di Watu Rejeng. Kami semua beristirahat dan makan siang berupa nasi yang dibungkus yang tadi kami beli diwarung.
(Kami istirahat dan makan siang di Watu Rejeng)
Selanjutnya, saya akan menceritakan pengalaman saya mendaki gunung berapi tertinggi dipulau Jawa ini. Berawal saya mengikuti sebuah organisasi pecinta alam disekolah saya, yang bernama CHANNEL. Apa itu CHANNEL? CHANNEL adalah singkatan dari Cikal Harapan Nature Lover. Yang pembinanya benama Johan Tri Efendi, kami menyebutnya Pak Jo.
Awalnya saya berfikir kalau saya tidak diizinkan oleh kedua orangtua saya, pada saat itu saya masih duduk dibangku kelas 10 juga sebelum berangkat kesana, sekolah saya mengadakan kemping selama 3 hari dua malam di daerah Gunung Bunder, Bogor. Jadi saya berfikir kalau saya tidak diberi izin oleh kedua orangtua saya. Tapi, takdir berkata lain. Saya diizinkan oleh kedua orang tua saya tanpa ada perdebatan. Ceileh.
Next. Sepulang dari Gunung Bunder, saya langsung pulang kerumah untuk membersihkan badan dan bersiap-siap menuju sekolah untuk briefing sebentar setelah dirasa semua sudah siap dan lengkap, kami semua pergi ke Stasiun Rawa Buntu untuk melanjutkan perjalanan.
Ah iya, kami satu rombongan terdiri dari 13 orang. Ada saya, Ka Indi, Ka Husein, Ka Rivo, Attilah, Adhit, Adri, Kunto, Galuh, Pak Johan, Pak Miftah, Bang Rizal dan Siara. Ditambah 2 orang lagi yaitu bapak dan om nya ka Indi. Setelah 30 menit transit dari stasiun Tanah Abang - Stasiun Senen, kami langsung masuk kedalam kereta tujuan Malang. Perjalanan akan ditempuh kurang lebih selama 12 jam.
Kami sudah sampai di Malang, setelah shalat Subuh di mushola setempat kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos pertama yaitu Ranu Pane. Perjalanan menuju Ranu Pane sangat sayang untuk dilewatkan, kami melewati Taman Nasional Gunung Bromo, Bukit telletubbies, dan kami dapat melihat Puncak Gunung Semeru dari kejauhan. Sungguh indah sekali.
(Ketika kami hendak siap-siap)
Setibanya di desa Ranu Pane, kami melakukan packing ulang dan berganti pakaian (jika yang mau). Setelah packing selesai, kami sarapan diwarung yang dekat dengan Pos Ranu Pane lalu memulai perjalanan.
Perjalanan pertama kami melewati perkebunan milik warga setempat, jalananpun yang awalnya landai kini mulai menanjak. Karena ini pendakian pertama saya, baru melewati tanjakan yang tidak terlalu tajam saja sudah membuat napas ngos-ngosan. Tapi, karena mempunyai semangat yang besar saya tidak mengikuti kata hati saya yang selalu berkata 'istirahat, duduk, minum'. Hal tersebut jika dilakukan terus-terusan, justru malah membuat kita cepat lelah.
Kami tiba di Lendengan Dowo untuk beristirahat sejenak, dan untuk menetralkan deru napas kami. Disana, ada warung yang menyediakan air minum, buah semangka dan makanan ringan.
Setelah itu kami melihat batu terjal yang indah dan melihat pemandangan yang sangat indah ke arah lembahh dan bukit-bukit yang ditumbuhi pohon cemara dan pinus. Kami tiba di Watu Rejeng. Kami semua beristirahat dan makan siang berupa nasi yang dibungkus yang tadi kami beli diwarung.
(Kami istirahat dan makan siang di Watu Rejeng)
Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan kami menuju camp 1. Tempat yang sangat kami tunggu-tunggu. Danau indah Ranu Kumbolo. Perjalanan yang kami lewati berupa turunan curam, dan harus melewati bebatuan besar dan pohon-pohon yang tumbang. Kami melewati jembatan cinta. Setelah melewati jembatan cinta, kami menjumpai kembali jalanan yang landai dan menanjak. Jalanan yang menanjak mampu membuat semua tenaga saya habis. Saya pribadi melewati tanjakan tersebut tanpa memerhatikan ritme napas saya.
Tanjakan tajam sudah kami lewati, sekarang kami berjumpa dengan turunan yang cukup curam dan juga licin. Dijalanan setapak itu, kalau kita melihat kesebelah kiri ada jurang yang sangat dalam. Saya pribadi merinding melihat jurang dalam nan seram seperti itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, kami dapat melihat sisi Ranu Kumbolo dan rerumputan sekitarnya dari atas bukit. Kami sangat senang ketika Ranu Kumbolo berada tepat didepan mata kami. Momen itu tidak asyik rasanya jika tidak kami abadikan. Kami mengabadikan momen itu dengan memotretnya menggunakan ponsel.
Hujanpun turun secara tiba-tiba, kami berlari menuju pos yang berada tidak jauh dari tempat dimana kami foto. Disana hanya ada saya, Rivo, Husein, Adhit, Kunto dan ka Indi. Adri dan Attilah berada dipaling belakang, sedangkan sisanya sudah membangun tenda didekat danau. Kami bergegas memakai jashujan guna melanjutkan perjalanan kami ke Ranu Kumbolo. Begitu melanjutkan perjalanan, air hujan yang mengenai tubuh sangatlah dingin. Tidak seperti hujan yang pada umumnya. Airnya lebih dingin daripada air kulkas yang sering kita minum. Bisa di bayangkan??
Kami sampai di Ranu Kumbolo langsung membangun tenda dan mengganti pakaian. Setelah itu, membuat makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh. Lalu istirahat untuk menyambut hari esok yang melelahkan dari hari ini.
Kami sampai di Ranu Kumbolo langsung membangun tenda dan mengganti pakaian. Setelah itu, membuat makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh. Lalu istirahat untuk menyambut hari esok yang melelahkan dari hari ini.
Pagi Hari di Ranu Kumbolo
Pemandangan indah dapat dilihat
langsung dengan mata telanjang kita. Kita dapat menyaksikan langsung terbitnya
matahari dengan malu-malu di Ranu Kumbolo. Sungguh, lebih indah dari sunrise
yang kita lihat di pantai. Menurut saya sih
Pemandangan dihadapan ini membuat
hati dan badan bergetar bukan hanya dingin yang menusuk tulang, lukisan pagi di
Ranu Kumbolo sangat indah. Air danau yang menguap diterpa cahaya pagi yang
mengintip dari balik celah-celah pepohonan yang menciptakan refleksi di air
danau sungguh mempesona.
Ini Pak Miftah, sedang menikmati keindahan Ranu Kumbolo
Pagi harinya, kami sarapan lalu mengambil foto-foto disana dan packing untuk lanjut ke camp terakhir, Kalimati. Sebelum kesana, kami berkumpul dulu untuk membaca doa. Semoga saja, perjalanan hari ini berjalan dengan lancar. Amiin. Selanjutnya, sebelum kami melewati Oro-oro Ombo kami harus melintasi tanjakan yang dinamakan dengan 'Tanjakan Cinta'. Mungkin teanjakan ini sudah familiar didengar oleh para pendaki ya.
Tanjakan Cinta, terdengar sepele dan terlihat gampang
kalau kita lihat didekat tenda. Tapi
jangan salah, kemiringan tanjakan tersebut kurang lebih mencapai 60o
. Tenaga yang dikeluarkanpun cukup banyak, bahkan banyak pendaki yang
baru sampai 10 langkah saja sudah ngos-ngosan. Ada sebuah cerita yang unik tentang Tanjakan Cinta ini. Konon katanya, kalau
kita ngelewatin tanjakan cinta tanpa menengok ke belakang dan sambil menyimpan
nama seseorang yang kita cintai akan terkabulkan. Tapi wallahu a’lam kalian
percaya atau nggak sama mitos itu.
Jujur saja, karena saya pendaki pemula jadi saya sangat terangah-engah melewati Tanjakan Cinta ini. Namun, setelah lelah melewati tanjakan cinta ini kita akan disuguhi pemandngan yang tak kalah indah dari Ranu Kumbolo. Yaitu, Oro-Oro Ombo. Taukah Oro-oro ombo itu? Jadi, Oro-oro Ombo itu adalah sabana yang berisikan bunga yang mirip dengan bunga lavender. Nama bunganya adalah Verbena Brasiliensis. Bunga berwarna ungu ini sangatlah indah, terbentang luas disana. Banyak orang yang mengabadikannya di kamera. Namun sayang, kami tidak mengabadikan momen tersebut.
Setelah melewati Oro-Oro Ombo, kami tiba di Cemoro Kandang. Tempat ini sangat enak digunakan untuk bersantai, lha? Piknik?. Suasananya adem sejuk karena banyak pohon cemara. Disini juga ada yang jual makanan dan minuman lho. Oke, kita next. Kita lanjut ke pos Jambangan. Perjalanan ini, menurut saya adalah perjalanan yang paling kerasa banget capeknya. Jalanannya tuh naik, gak ada yang landai. Nafas ngos-ngosan.
Alhamdulillah, kami sudah tiba di Jambangan. Di Jambangan ini, kita dapat melihat gagahnya puncak Mahameru seperti gambar diatas. Di Jambangan kita gak lama-lama, karena udah capek juga kita lanjut ke camp terakhir yaitu Kalimati. Perjalanan dari Jambangan ke Kalimati cukup singkat, kuranglebih cuma 15 menit. Udah gitu, jalanannya juga turunan dan sesekali landai.
Sampai di Kalimati, kami langsung membangun tenda. Tapi, ada sebagian yang lain mengambil air untuk keperluan summit malam ini. Yeay, Mahameru!
23.30 kami bangun dan bergegas memakai baju double bahkan triple untuk melakukan summit. Kupluk kepala, buff, jaket tebal 2, sarung tangan, senter/headlamp, dan kaoskaki yang double. Kami mengenakan itu semua agar tidak kedinginan nantinya. Kami berdoa sebelum summit, semoga summit ini berjalan dengan lancar.
Deru angin begitu terdengar ditelinga saya, karena kami sudah berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl. Kami memasuki batas vegetasi, dimana sudah tidak ada lagi tumbuhan yang hidup. Hanya ada 1, blank 75. Ngedenger namanya udah merinding. Apalagi, ah sudahlah.. Kami tiba di Arcopodo. Tahukah? Jadi Arcopodo itu katanya ya, ada 2 patung gitu. Tapi jujur aja, selama saya summit dan sampai di Arcopodo saya tidak melihat patung itu. Apakah cuma orang tertentu yang bisa melihat patung tersebut?
Alhamdulillah, pukul 09.00 kami tiba di Puncak Mahameru. Tanah tertinggi yang ada di Pulau Jawa. Syukur alhamdulillah pada pendakian pertama saya, saya dapat menaklukkan gunung one of 7 summit Indonesia.
Semua adalah dukungan dari mereka semua. Tapi ingat, kalau bukan izin dari orangtua kita gak akan mungkin bisa ada di puncak Mahameru ini. Intinya terharu, bisa naklukkin salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa.
HELLO BRO!!
"READY CHANNEL!!!"
Doakan, semoga ditahun 2018 nanti CHANNEL akan mendaki ke salahsatu Gunung Tertinggi di Pulau Sulawesi, Gunung Latimojong. Doakan, semoga kami bisa menaklukkan 7 Summit Indonesia.
~Najwa~











Komentar
Posting Komentar